Friday, December 21, 2012

VIDEO: Susan Budihardjo, Pencetak Desainer Papan Atas Indonesia

Fashion show LPTB Susan Budihardjo.
Fashion show LPTB Susan Budihardjo.

VIVAlife - Atmosfir berbeda langsung terasa saat memasuki ruang demi ruang di sekolah mini ini. Kesannya simpel dan modern. Paduan desain futuristik namun minimalis yang didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih.

Berbagai rangkaian kata terpatri di hampir setiap dinding. Salah satunya, penuturan Coco Channel sang fashion icon yang cukup menarik perhatian: "Fashion is not something exist in dresses only. Fashion is in the sky, in the street, fashion has to do with ideas, the way we life what is happening."

Membayangkan mendalami seluk beluk pakaian dengan aura yang serba "fashion" ini meluncurkan adrenalin kami. Semakin semangat untuk menemui sosok sang guru fashion, Susan Budihardjo.

Namanya memang tidak bergaung sebagai desainer. Namun tangan dinginnya telah menelurkan nama-nama desainer besar Indonesia. Ia memilih berkecimpung sebagai pendidik fashion. Tidak tampil di depan tapi berdiri di belakang sebagai penjaga. Susan mendirikan Lembaga Pelatihan Tata Busana Susan Budihardjo, sesuai namanya.

Gaya rock chic, LPTB Susan Budihardjo

Cita-cita awal sang guru ini sebenarnya hanya ingin menjadi Insinyur. Sebelumnya Susan memang mengenyam pendidikan arsitektur di Universitas Tarumanegara. Apa boleh buat, ketertarikan pada dunia fashion lebih membumbung. Ia lalu menceritakan awal kecintaannya pada seni penampilan ini.

Susan kecil memang suka berdandan. Suka bergaya modis dan selalu mengikuti tren. Menginjak dewasa, saat sudah mencicipi bangku kuliah arsitektur, ia memuruskan untuk banting setir mendalami dunia fashion. Susan pindah kuliah ke Akademi Seni Rupa dan Desain ISWI. Saat itu ISWI merupakan satu-satunya sekolah mode formal di Indonesia.

"Bagi saya, segala sesuatu yang akan diseriusi harus diawali dengan pondasi pendidikan formal, ujar Susan mantap, saat ditemui secara khusus oleh VIVAlife. Lihat tautan ini untuk video selengkapnya.

Tak mau setengah-setengah, usai menamatkan pendidikan akademinya, Susan terbang ke London untuk mendalami mode. Keinginannya hanya satu. Mendirikan sekolah mode di Indonesia. "Karena awalnya saya kesulitan mencari sekolah mode di Indonesia. Jadi ingin mendirikan sekolah mode dengan materi yang saya dapat selama lima tahun di luar," terangnya.

Niat mulia itu akhirnya kesampaian. Berbarengan dengan menciptakan label desain, Susan pun mendirikan Lembaga Pengajaran Tata Busana. Dari ruanganyang hanya sebesar garasi mobil dan murid berjumlah dua orang, kini sekolahnya berdiri di tiga kota besar. Jakarta, Surabaya dan Semarang.

fashion show susan budiarjo

Muridnya pun selalu berdatangan. Padahal ia hanya bia mempromosikan dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, LPTB Susan Bidihardjo pun tak pernah pasang iklan. "Awalnya banyak yang meragukan, nggak salah capek-capek sekolah biayanya mahal, lima tahun, tapi pulang langsung bagi-bagi ilmu? Tapi saya nggak apa-apa, jalani aja," ujarnya bijaksana.

Melebihi nama besar
Bisa dibilang, Susan merupakan pelopor sekolah mode lokal di Indonesia. Banyak desainer yang sudah menyandang ketenaran, ternyata "dilahirkan" olehnya, seperti Sebastian Gunawan, Denny Wirawan, Rudi Chandra, Soffie, Edy Betty, Didi Budiharjo, Ardianto Halim, dan banyak lagi.

Susan justru tak merasa tersaingi saat nama besarnya "kalah" oleh anak didiknya sendiri.

Ia tetap memilih berada di belakang layar, menjadi ibu bagi desainer-desainer muda negeri ini. "Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau kita mendidik orang itu selalu lebih jelek dari kita, justru kita tidak akan pernah bisa maju. Saya punya murid dengan karakter sendiri-sendiri, di sini kita hanya memberikan ilmu, dan membiarkan mereka menemukan jati dirinya," kata Susan berargumen.

Justru, ia berusaha memasukkan murid-muridnya ke pasar potensial yang bisa membawa nama mereka. Ia yakin, jika nama murid-muridnya dipandang, maka nama sekolah dan dirinya sendiri akan ikut harum.

Tak mudah memang melahirkan desainer yang memiliki nama besar. Persaingan sekolah lokal dengan franchise internasional pun telah ia rasakan. Namun, Susan tetap santai dan optimistis menjalaninya. Ia tertantang bukan untuk bersaing, melainkan mengambil sisi positif dari para kompetitornya.

"Usia sekolah ini baru 32 tahun, sedangkan kompetitor itu sudah ratusan tahun. Jalan satu-satunya ya hadapi dengan tegar dan ambil positifnya," ia menuturkan.

Susan pun selalu berusaha beradaptasi dengan perkembangan fashion, serta meninggikan standar agar sekolahnya bisa bersaing secara internasional. Ia tak pernah merasa takut kehilangan kesempatan menarik murid meski sekolahnya merupakan asli buatan tangan lokal.

Kepada murid-muridnya, Susan hanya menyampaikan bahwa seseorang menjadi besar bukan hanya dari bakat yang diasah melalui pendidikan, tetapi juga keuletan dan karakter yang kuat. "Kalau sekolah dan langsung jadi ya nggak bisa juga," ujarnya.

Fashion Show Sekolah Mode Susan Budihardjo  Akreditasi : Arselan Ganin

Ia menegaskan pentingnya berpikiran maju dan kepekaan mencermati lingkungan dan mengikuti perkembangannya. Ia sendiri mengukur kesuksesan murid-muridnya tak hanya dari nama yang berkibar di dunia fashion semata.

Menurutnya, bisa menentukan pilihan dan serius di dalamnya, sudah merupakan kesuksesan tersendiri. "Saya juga melihat dari karya, kreativitas, dan kualitasnya."

Semua itu, tak hanya didapat saat mereka sekolah saja. Justru dunia luar setelah mereka lulus lah, yang akan membentuk masing-masing menjadi pribadi yang kuat. Sedangkan Susan, selalu tersenyum melihat anak-anaknya sukses. Tak jarang ia mendapati "kuda hitam", sosok yang selama ini tak disangka ternyata namanya bisa berkibar tinggi di dunia fashion.

Fashion Show Sekolah Mode Susan Budihardjo

"Saya tidak mengharapkan imbalan dari mereka, menelurkan desainer muda dan brilian untuk Indonesia saja sudah cukup. Tapi bertemu saya mereka selalu respek. Ada yang mengirim hadiah, ada juga yang tiba-tiba menegur saya di sebuah acara fashion show yang ternyata hasil karya dia," cerita Susan bangga.

Mendesain yang lain
Meski telah mendirikan sekolah mode selama puluhan tahun dan membidani lahirnya ratusan desainer Indonesia, Susan tak pernah lupa pada cita-citanya dulu, yakni menjadi arsitek. Walaupun tak pernah menamatkan sekolah formal di bidang itu, ia masih menjalani hobi mendesain bangunan, terutama interior. Desain modern minimalis nan futuristik di sekolah modenya yang terletak di kawasan Cikini itu pun, hasil tangan Susan sendiri. Begitupula untuk tempat tinggalnya pribadi.

"Interior memang saya suka. Dan saya enjoy banget kalau ada teman yang minta bantuan jasa saya soal itu," ia mengakui. Seperti halnya mendesain pakaian, ia pun menyesuaikan desain interior berdasarkan pengguanaannya. Untuk bangunan sekolahnya yang didominasi anak muda, ia lebih menerapkan desain yang fresh. Lain ruangan, lain penggunaan, lain lagi desain yang ia aplikasikan.

Susan mengakui, kesukaannya pada desain interior masih berhubungan dengan profesinya sebagai fashion designer. Keduanya sama-sama menggambar, dan harus menyesuaikan dengan karakter. Belum lagi hubungannya dengan penggunaan warna.

"Jadi waktu saya masuk kuliah fashion designer dari arsitek, tidak terlalu kesulitan. Boleh ditanya, mungkin dari 40 desainer ada empat yang background-nya arsitek. Karena memang ada hubungannya, soal permainan warna dan sebagainya," ia menjelaskan.

Walaupun selera desain interiornya tak kalah dengan profesional, Susan justru tak berniat serius menggeluti bidang itu kembali. Ia hanya menamakannya sebagai hobi. Sedangkan hidupnya, masih ia dedikasikan mengembangkan sekolah mode yang siap mengangkat dunia fashion tanah air. (ren)


Via: VIDEO: Susan Budihardjo, Pencetak Desainer Papan Atas Indonesia

Share this

0 Comment to "VIDEO: Susan Budihardjo, Pencetak Desainer Papan Atas Indonesia"

Post a Comment