Tradisi Apem Sewu di Solo. (http://www.kratonpedia.com)
Tradisi Apem Sewu di Solo. (http://www.kratonpedia.com)
VIVAlife - Bulan suci ramadan merupakan bulan yang paling dinanti umat muslim. Segala persiapan sudah dilakukan jauh hari sebelum puasa, termasuk tradisi unik apeman.Yakni kegiatan membuat kue apem, yang kemudian dibagikan ke sanak saudara dan tetangga dekat.
Tradisi ini sangat dikenal di Jawa Tengah. Tidak jelas kapan tepatnya tradisi ini mulai ada, yang pasti sampai sekarang masyarakat masih menyambutnya antusias.
Mengapa harus apem? Bukan cake, onde-onde, martabak, atau makanan lainnya. Menurut cerita, apem diambil dari kata ampun, yang akhirnya digunakan sebagai pertanda permohonan maaf pada Sang Pencipta sebelum memasuki ramadan. Yang membuat kue apem ini adalah mereka yang orangtuanya telah meninggal.
Selain mewarisi tradisi, apeman ini juga digunakan sebagai ajang berbagi kepada sesama. Juga mempererat kekerabatan. Di Yogyakarta misalnya, apeman tidak hanya diikuti oleh warga yang tinggal dalam satu kawasan saja. Tradisi ini malah mengundang keingintahuan turis asing, yang akhirnya ikut terlibat dalam pembuatan kue bulat berbahan tepung beras ini.
Masyarakat membuatnya sejak pagi. Menjelang siang, mereka menatanya pada tampah membentuk gunungan, lengkap dengan pernak pernik Jawa seperti janur. Gunungan apem ini kemudian diarak di sepanjang jalan oleh kaum laki-laki berpakaian tradisional, sebelum akhirnya dibagikan.
Oleh: ranirere
***
Artikel ini diikut sertakan dalam Lomba Tulis Ramadan Unik kanal U-Report berhadiah gadget. Kirimkan juga tulisan tentang tradisi Ramadan di daerah Anda melalui link berikut.
Via: Apeman, Cerita Tersisa dari Tradisi Sambut Ramadan
0 Comment to "Apeman, Cerita Tersisa dari Tradisi Sambut Ramadan"
Post a Comment