VIVAlife Kesan kota modern segera menyergap Anda saat memasuki kota Cirebon, Jawa Barat. Di sepanjang jalan utama, berderet gedung baru, dari penginapan, perkantoran hingga mal. Aneka kedai gerai franchise makanan siap saji, hingga kafe mungil berdesain cantik berkelebatan.
Lanskap kota Cirebon kini tak jauh berbeda dari Bandung, atau Jakarta. Dulu, hanya ada Mal Grage, satu-satunya mal di kota udang itu. Kini, ada Cirebon Super Block (CBS) mal yang letaknya tak jauh dari Grage dengan desain tak jauh berbeda dari mal di Jakarta.
Kota ini memang kian berkembang. Tapi, aroma terasi, cerita keraton, dan abang becak yang siap mengantar pelanggan, tetap ada. Keotentikan kota masih tersisa. Jika Anda berkesempatan melawat ke kota itu, jangan lewatkan tempat bersejarah, dan juga menyerahlah pada godaan kuliner lezat yang nendang di lidah.
Ada tiga keraton di kota itu, yang pantas masuk ke dalam daftar wajib kunjung. Tentu saja menikmati ragam kuliner, atau belanja batik cantik Cirebon bermotif khas mega mendung itu. Sehari rasanya terlalu singkat untuk kota ini.
Keraton Kasepuhan
Meski kota ini berderap menjadi kota modern, pengaruh Keraton Cirebon masih cukup kuat. Rakyat masih sangat menghormati pemimpin keraton. Saat memulai usaha atau akan membuat keputusan besar, mereka sering meminta pendapat para sesepuh Keraton.
Ada tiga keraton di Cirebon yang kini dipimpin oleh keturunan Syarif Hidayatullah, atau kita lebih mengenalnya dengan Sunan Gunung Jati. Keraton Kasepuhan adalah yang tertua. Kini kepimpinan dipegang oleh Sultan Sepuh XIV, P.R.A Arief Natadiningrat.
Akulturasi Islam dan Jawa di Kasepuhan memang sangat kental, terutama sentuhan budaya Cina dan Belanda. Ini terlihat dari piringan-piringan menghiasi area bangunan Siti Inggil di area depan keraton, yang dulu merupakan tempat latihan para prajurit.
Jika dilihat lebih dekat piringan tersebut bermotif bunga, naga dan bergambar kincir angin. Sayangnya, ketika VIVAlife mendatangi keraton kasepuhan beberapa waktu lalu, ada beberapa piringan yang pecah bahkan hilang.
Ada dua museum di keraton ini. Sebelah kanan museum tempat menyimpan cinderamata dan alat perang. Dan, sebelah kiri merupakan 'rumah' kereta kencana Singa Barong nan megah.
"Dulu kereta Singa Barong ini digunakan Sunan Gunung Jati sebagai alat transportasi. Kini kereta tak lagi digunakan, cuma dikeluarkan setiap satu Syawal untuk dimandikan," kata Pak Ibak, pemandu kami.
Salah satu yang unik di Keraton Kasepuhan adalah pohon bunga Soka raksasa. Usianya sudah ratusan tahun. Tak seperti pohon soka biasa yang bunganya tumbuh di ujung, bunga Soka di Kasepuhan ini tumbuh dari bagian tengah ranting. Menurut cerita Pak Ibak, pohon Soka ini adalah pohon purba yang hanya ada di komplek keraton Kasepuhan.
Tepat di bawah pohon Soka tua ada sumur, namanya Sumur Upas. Zaman dulu, air Sumur Upas diminumkan pada tamu Keraton yang ingin bertemu Raja.
"Jika niatnya baik maka tidak akan terjadi apa-apa. Tapi jika niatnya buruk, yang minum bisa keracunan. Sekarang sudah tidak lagi, sumur sudah ditutup," cerita Pak Ibak.
Ada area di keraton Kasepuhan yang tak boleh dimasuki wanita. Area tersebut bernama "Petilasan Sunan Gunung Jati", yang merupakan tempat bertapa Sunan.
"Di dalamnya ada bale tempat bertapa. Dulu Sunan Gunung Jati bisa berhari-hari di dalam. Memang wanita dilarang masuk, kalau masuk takutnya nanti kena bala," kata Pak Ibak memperingatkan.
Takut peringatan pak Ibak, akhirnya VIVAlife hanya mengintip dari luar. Pada malam Jumat atau Malam Satu Suro, Keraton Kasepuhan ini banyak didatangi pengunjung yang ingin bertapa dan mencari berkah. Sambil berdoa, biasanya mereka juga membawa bunga dan membakar kemenyan.
Keraton Kanoman dan Kacirebonan
Keraton selanjutnya yang wajib didatangi adalah Keraton Kanoman. Terletak di dalam Pasar Kanoman, VIVAlife sempat kebingungan masuk ke keraton ini, dan harus memutar jalan dua kali. Gerbang keraton ternyata tertutup oleh deretan penjual yang sangat ramai dan jadi tempat parkir becak.
Pengunjung memang harus melewati pasar terlebih dulu untuk memasuki kompleks keraton. Saat memasuki Kanoman seperti juga Keraton Kasepuhan, terdapat tugu berhias piringan Tiongkok. Deretan piring berbagai warna, dan motif menghiasi tugu putih nan kokoh di Keraton.
Area Mande Manguntur yang terbuat dari batu merah juga dihiasi piringan. Bangunan ini adalah balai tempat duduk Sultan ketika acara besar Keraton seperti ritual Sekaten digelar. Tak jauh dari balai itu ada pohon beringin besar.
Ada juga museum yang menyimpan Kereta Perang Paksi Naga Liman dan Kereta Jempana. Kereta itu, menurut cerita, lebih tua daripada kereta di Kasepuhan. Sayangnya, saat VIVAlife bertandang ke Kanoman, sedang digelar acara, sehingga tak bisa masuk ke museum untuk melihatnya lebih dekat.
Suasana sore di area keraton Kanoman sangat ramai. Selesai penjual pasar menutup warung, mereka berbaur dengan warga sekitar untuk saling menyapa, dan berbincang di area Keraton, yang memang terbuka untuk umum.
Berpayung pohon beringin besar, banyak penjual jajanan, menunggu pembeli. Anak-anak pun bebas bermain di halaman keraton yang kini dipimpin Sultan Kanoman XII, Raja Muhammad Emirudin.
Perjalanan pun berlanjut ke Keraton termuda, Keraton Kacirebonan. Tak seperti keraton dua keraton sebelumnya, bangunan keraton ini lebih terawat dan modern. Lampu kristal dari Belanda menghiasi area ruangan penerima tamu.
Foto-foto pengangkatan KGPH Abdulgani Natadiningrat Dekarangga, sultan yang saat ini memimpin, menghiasi tembok. Memasuki area koleksi, terdapat berbagai peralatan yang digunakan untuk ritual keraton. Seperti piring tembaga tempat membawa bunga. Tempat lilin klasik, mulai dari berukuran mungil hingga besar.
Barang yang paling mencuri perhatian di Keraton Kacirebonan adalah kandang ayam raksasa warna hijau, dan berbalut kain warna emas. Di dalamnya terdapat tangga, piring besi dan berbagai kain.
"Sangkar ini selalu digunakan untuk acara Turun Tanah anak Sultan. Digelar secara terbuka di halaman keraton. Warga sekitar biasanya datang, begitu juga wisatawan luar," kata Yani, pemandu kami.
Pengalaman menyusuri tiga keraton seakan memasuki lorong waktu. Banyak cerita dan mitos melingkupinya. Pastikan Anda melangkahkan kaki ke Keraton Kanoman, Keraton Kasepuhan dan Keraton Kacirebonan dan biarkan seluruh indera terpesona. Anda bisa mengintip keindahan tiga Keraton Cirebon di tautan galeri foto ini.
Batik VOC
Desa Trusmi. Wilayah ini adalah sentra penjualan batik terbesar di Cirebon. Berbagai toko, butik, hingga department store ada di sini, dan menjual beragam jenis batik. Mulai dari cap, printing, hingga tulis.
Harganya juga cukup beragam. Dari puluhan ribu hingga puluhan juta rupiah. Toko-toko batik berderet sangat banyak, dan dibuat sangat modern. Beretalase kaca dan berpendingin ruangan. Kaki bisa pegal jika memasuki seluruh toko.
Tapi, ada satu tempat wajib bagi Anda pecinta batik otentik. Menyempil di antara toko berbangunan modern, rumah berbentuk Joglo dengan papan mungil yang masih menggunakan ejaan lama bertulis "BATIK KERIJ MADMIL". Ini adalah toko batik otentik Cirebon yang usianya sudah puluhan tahun.
Pemiliknya bernama Ega Sugeng. Perempuan itu dengan ramah menyuruh VIVAlife melihat-lihat koleksi batiknya, yang sebagian besar batik tulis. Ia lalu menjembreng batik-batik hasil karyanya. Salah satunya batik tulis khas Cirebon bermotif Mega Mendung berbagai warna. Mata langsung berbinar melihatnya.
"Tak bisa kalau lihat kain batik tapi dilipat, harus dijembreng begini. Kelihatan kan motif sama warnanya, jadi dapat yang pas di hati," kata Ega memberikan tips.
Langganan ibu Ega bukan hanya warga biasa. Tapi juga kalangan keraton. Saat ingin memperbarui koleksi kain, utusan dari keraton biasanya memesan pada ibu Ega. Motifnya tentu saja yang khusus untuk keluarga keraton, antara lain Kereta Singa Barong dan Peksi Naga Liman berwarna sogan atau kecokelatan.
Koleksi batik yang ada di rumah bu Ega bukan hanya batik-batik tulis yang baru dibuatnya. Tapi juga batik yang usianya diperkirakan sudah ratusan tahun.
Saat ia membuka lemari ukiran kayu, terlihat tumpukan kain klasik. Aroma kain yang tersimpan di lemari kayu meruap. Baunya khas. Ia lalu mengeluarkan selembar kain warna cokelat, yang ia sebut kain batik VOC.
"Ini batik VOC, lihat angka penunjuk tahunnya 1800an, ada bendera VOC. Halus sekali kainnya, entah bahannya jenis apa, sekarang sudah tak ada lagi. Ini tak saya jual, dulu pernah dilihat Iwan Tirta. Dia bilang ini kain kuno klasik, harus disimpan baik-baik tak boleh dijual," ujar Bu Ega.
Ia memperkirakan kalau dijual, harganya bisa ratusan juta. Senangnya saat VIVAlife diperbolehkan memegang dan mengelusnya. Tekstur kain begitu halus, warnanya juga masih sangat pekat, dan bau kain seakan mengisap siapapun ke waktu yang lampau.
"Dulu pernah ada tim peneliti dari Belanda kemari. Mereka tahu kalau saya punya koleksi batik VOC, lantas minta dibuatkan replikanya," cerita Ega.
Pembuatan replika kain itu membutuhkan waktu satu tahun. Bu Ega sendiri yang mengerjakannya. Tak heran kalau harga replika kain tersebut mencapai Rp20 juta. Kain itu ternyata untuk dipamerkan di salah satu museum budaya di Belanda.
Ada juga kain batik dari zaman penjajahan Jepang. Warnanya perpaduan biru indigo dan cokelat. Tekstur bahannya juga sangat halus dengan motif bunga-bungaan. Seperti batik VOC, kain ini juga tak djual. Begitu banyak koleksi batik kuno Ega yang disimpan baik-baik. Ia berusaha melestarikan dengan membuat replikanya.
"Ada batik yang di etalase depan saya juga buat sendiri selama satu tahun. Itu replika batik Cirebon klasik, harganya sepuluh juta," kata Ega.
Di bagian belakang rumahnya terdapat alat-alat membuat membuat batik. Jadi, tamu yang datang bisa melihat langsung proses pembuatan batik. Bahkan, Ega bercerita sering ada tamu yang melihat batik yang masih dijemur. Belum jadi sudah mau dibawa pulang, ya akhirnya dibeli".
Rumah Ega ini memang bukan hanya sekedar toko batik. Tapi juga, rumah bagi yang ingin belajar batik Cirebon. Ia banyak menerima mahasiswa tekstil dan sejarah yang sedang menulis
skripsi dan thesis. Dulu almarhum Iwan Tirta, sang maestro batik, juga sering datang melakukan riset.
Ega memang selalu membuka pintu rumahnya bagi yang ingin belajar batik Cirebon. "Siapa pun boleh datang kok, tinggal ketuk saja," ujarnya hangat.
Nasi Jamblang
Tak perlu bingung mencari makanan lezat di Cirebon. Salah satu menu khas yang wajib dicicipi adalah Nasi Jamblang, dan yang cukup terkenal adalah Nasi Jamblang Mang Dul. Letaknya di seberang Grage Mal, Jalan Veteran. Sejak pukul 05.00 pagi ternyata kedai ini sudah buka.
VIVAlife menyambanginya sekitar pukul 07.00 pagi, dan sudah sangat ramai pengunjung. Menilik dari sejarah, nasi Jamblang dulu dibuat untuk konsumsi para pekerja paksa zaman Deandels yang membangun jalan dari Anyer ke Panarukan. Daun jati lebar, digunakan membungkus nasi beserta lauk pauk agar tidak basi.
Tapi kini, nasi jamblang disajikan dengan lauk terpisah seperti di kedai Mang Dul. Jejeran lauk terhidang di meja panjang. Mulai dari daging, ayam, kerang, tempe, telur, paru goreng dan masih banyak lauk lainnya dengan kuah bumbu pekat, sangat memancing selera makan. Pilih saja sesuka hati.
Tak jauh dari kedai Mang Dul, Anda bisa mencoba makanan khas lainnya, Empal Gentong Mang Darma. Isinya berupa irisan daging sapi, dan jika Anda suka juga bisa ditambah babat dan atau paru. Meskipun kuahnya terbuat dari santan tapi tak begitu kental. Rasa kuahnya sangat ringan.
Sambalnya bukan seperti sambal biasa. Tapi berupa cabai bubuk yang rasanya tak terlalu pedas. 'Pasangan' tepat Empal Gentong ini adalah irisan lontong yang teksturnya sangat lembut. Berpadu pas dengan gurihnya kuah dan daging.
Untuk jajanan kaki lima, banyak sekali yang bisa dinikmati. Anda bisa menemuinya di pinggir jalan Veteran hingga Siliwangi. Mulai dari tahu gejrot, kerupuk melarat, hingga bubur sop. Keliling saja naik becak sore hari, dan nikmati jajanan-jajanan khas itu.
Pulangnya jangan lupa mampir di kawasan pasar Kanoman. Manisan buah, ikan asin, terasi, kerupuk melarat, sirup Tjampolay, siap dimasukkan ke dalam kardus sebagai buah tangan Anda dari Cirebon.
----------------------------------
Mau berwisata atau berlibur? Klik saja Gonla.com. Dapatkan diskon menarik dari hotel pilihan Anda.
Via: Antik dan Lezat di Cirebon
0 Comment to "Antik dan Lezat di Cirebon"
Post a Comment