Cuci Tangan
Cuci Tangan
Melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), Plan Indonesia bekerjasama dengan para stakeholder termasuk Pemda setempat terus meningkatkan kesadaran tentang kebersihan sejak tahun 2010 lalu. Upaya peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat ini dilakukan di dua Kabupaten yaitu Timor Tengah Selatan (TTS) dan Timor Tengah Utara (TTU).
Program STBM ini melaksanakan pada 5 pilar untuk lingkungan yang bersih dan hidup yang lebih sehat diantaranya adalah, stop buang air besar sembarangan (Stop BABS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), pengelolaan air minum di rumah tangga (PAM RT), pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.
Diperkuat dengan Kemenkes No.852/Menkes/SK/IX/2008, disebutkan bahwa STBM sebagai strategi nasional untuk menurunkan kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.
Studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia pada tahun 2006 menjelaskan, bahwa perilaku masyarakat untuk mencuci tangan sebanyak 12 persen terjadi setelah buang air besar, 9 persen setelah membersihkan tinja bayi dan balita, 14 persen sebelum makan, 7 persen sebelum memberi makan bayi dan sebelum menyiapkan makanan sebesar 6 persen.
Sementara studi BHS lainnya perilaku pengelolaan air minum rumah tangga, menunjukkan 99,20 persen telah merebus air untuk mendapatkan air minum, akan tetapi 47,50 persen dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli. Angka kejadian diare nasional pada tahun 2006 sebesar 423 per seribu penduduk pada semua umur, dan di 16 propinsi mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) diare dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 2,52 persen.
Menurut WHO (2007) intervensi lingkungan melalui modifikasi lingkungan dapat menurunkan risiko penyakit diare sampai dengan 94 persen. Modifikasi lingkungan tersebut termasuk di dalamnya penyediaan air bersih menurunkan risiko 25 persen, pemanfaatan jamban menurunkan resiko 32 persen, pengelolaan air minum tingkat rumah tangga menurunkan resiko sebesar 39 persen dan cuci tangan pakai sabun menurunkan risiko sebesar 45 persen. Apabila ditambah dengan pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga maka kejadian penyakit diare dapat menurun lebih besar lagi.
Di Kabupaten TTS dan TTU setiap tahunnya terjadi kasus diare yang cukup tinggi, sehingga perlu program penyadaran masyarakat untuk memperbaiki pola hidupnya dengan melaksanakan pola hidup sehat sesuai pilar-pilar STBM.
Melalui program STBM berbasis 5 pilarnya sejak 2011 lalu bersama Plan Indonesia, Desa Laob Kecamatan Polen Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur, mampu menekan tingkat penderita diare.
Sebelum adanya program STBM di desa Laob ini menjadi langganan penyakit yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan seperti diare, malaria dan demam berdarah. Bahkan pada tahun 2010 ada 500 kasus diare tercatat di desa ini. Namun pada tahun 2011, setelah program sanitasi berjalan, jumlah kasus diare menurun hingga 254 kasus.
Program STBM dapat dikatakan cukup berhasil, terbukti pada tahun 2010 tercacat penderita penyakit diare yang melakukan pengobatan di tim medis sebayak 500 orang, tahun 2011 sebanyak 254 orang dan tahun 2012 sebanyak 257 orang. "Kami merasa program ini cukup berhasil, karena di Timur Tengah Selatan (TTS) ini setiap tahunnya penderita diare paling tinggi di NTT. Tapi setelah ada program STBM ini, penderita diare berkurang drastis,"jelas Kepala Puskesmas Polen, Karolus Niron.
Sementara itu menurut Camat Polen, Nimrot Tauho, masyarakat di Kecamatan Polen khususnya Desa Laob, sebelumnya masih banyak yang tidak mempunyai WC, kesadaran pengelolaan sampah, limbah, kebersihan air dan kebersihan diri sangat minim. Namun setelah adanya program STBM, masyarakat mulai sadar sehingga kebersihan masyarakat semakin baik.
Dari data monitoring kasus diare dari Puskesmas Polen, menunjukkan pada 2011 telah terjadi penurunan kasus diare sebesar 28,28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan kasus diare ini selain karena adanya perubahan perilaku hidup sehat di masyarakat desa yang melaksanakan 5 pilar STBM tersebut.
Kini setelah adanya program STBM setiap rumah di desa sudah memiliki jamban, keadaan ini diharapkan terus dipertahankan serta ditingkatkan agar tercipta masyarakat yang bersih dan sehat,ujarnya. (web)
Via: Cuci Tangan Terbukti Dapat Mencegah Diare
0 Comment to "Cuci Tangan Terbukti Dapat Mencegah Diare"
Post a Comment