VIVAlife - Gemuruh tepuk tangan membahana di Chinese Assembly Hall Malaysia, tempat berlangsungnya Asia Open Piano awal Oktober silam. Seorang gadis belia asal Indonesia di belakang piano berhasil memikat 12 juri dari Jepang, China, Taiwan, Hongkong, Singapura dan Amerika Serikat.
Dialah Evelyn Zainal Abidin. Tarian jemarinya di atas tuts piano memainkan komposisi Bach Symphonia 15, Zaragosa by Albenis, Scherzino by Arthur Benjamin sekaligus membuatnya merebut peringkat pertama dalam kategori Junior Profesional dia bawa pulang. Di kejuaraan yang sama, gadis belia ini juga menyabet juara 3 di kategori Junior Amateur serta kategori Asia Composer.
Prestasi mancanegara lekat dengan gadis kelahiran 18 Maret 1999 tersebut. Sejak kanak-kanak, Evelyn memenangkan berbagai kompetisi internasional dan memecahkan rekor MURI resital piano pada 2009. Siswi Ciputra International School Surabaya ini bahkan menjadi pianis Indonesia termuda yang memperoleh penghargaan bergengsi di ajang American Protege Internasional Piano and String 2011 dan 2012.
Namun, gemerlap prestasinya adalah buah dari proses panjang dan seringkali tak mudah. Di usia empat tahun, Evelyn sudah mulai tertarik dengan dua alat musik, piano dan biola. "Kalau sedang latihan, ya tidak main-main, karena ini memang keinginan," ucap Evelyn yang juga piawai memainkan biola.
Evelyn rutin belajar piano dan biola empat kali seminggu di Rhapsody Music School. Di rumah, keduanya rutin berlatih dengan intensitas makin sering menjelang kompetisi.
"Mereka tidak pernah mengeluh saat waktu latihan pianonya ditambah, padahal di saat yang sama mereka juga menghadapi ujian sekolah yang membuat mereka juga harus mengikuti les tambahan untuk pelajaran sekolah," jelas sang ibu, Eva Tanudjaja.
Kendati rutinitas harian sangat padat, Evelyn mengaku tetap bermain bersama teman sebaya. "Suka musik Korea dan main sama teman-teman juga," ungkapnya.
Torehan prestasi anak-anak Indonesia di bidang sains tak kalah mengagumkan. Setiap tahun, puluhan 'garuda muda' meraih berbagai penghargaan internasional.
Salah satunya Erwin Wibowo, siswa SMAK BPK Penabur Gading Serpong, Banten yang mengharumkan nama Indonesia pada Olimpiade Fisika Internasional (IPho) ke-42 di Bangkok, Juli 2011 silam. Dia berhasil menekuk ratusan pelajar lain dari 84 negara.
Dalam uji tes teori dan praktek masing-masing selama lima jam, Erwin berhasil menjadi yang terbaik. Di bulan yang sama, para pelajar Indonesia kembali meraih penghargaan pada kompetisi penelitian internasional, 18th International Conference of Young Scientist (ICYS) di Moscow, Rusia.
Dalam ajang kompetisi antar peneliti muda itu, Indonesia berhasil mengumpulkan satu medali emas, dua medali perak, dan dua medali perunggu. Jessica Lo dari SMAK Cita Hati Surabaya berhasil meraih medali emas dalam bidang Environmental Science.
Mendidik Anak Berprestasi Minus Stres
Menurut psikolog anak, Fabiola P Setiawan, prestasi atau usaha mencapai prestasi membawa beberapa konsekuensi bagi anak, termasuk stres. Stres yang kerap melanda saat anak menjalani proses meraih prestasi juga sangat bergantung dari lingkungan dan mental anak itu sendiri.
"Ada anak yang tak terbebani dengan tuntutan untuk belajar, demi mencapai prestasi yang besar. Adapula yang sebaliknya dituntut untuk menjalani hal yang tak ia sukai, maka pastinya ia akan mendapatkan tekanan dan merasa terbebani," ungkap salah satu ahli di Klinik Tumbuh Kembang Anak dan Remaja Pela 9 ini.
Lingkungan, menurut Fabiola juga turut mempengaruhi keinginan berprestasi. Di lingkungan yang saling berkompetisi, anak membutuhkan achievement untuk diakui. Fabiola mengatakan, anak yang bisa mencapai olimpiade umumnya berasal dari genetik, tapi anak rata-rata membutuhkan les tambahan. Saat anak mengalami stres, peran orangtua sangat penting untuk menyemangati anak, selain mencari bakat anak.
"Jangan memaksa kalau melihat anak terbebani untuk menjalani bidang yang tak disukai. Orangtua punya pilihan lain membangun bakat anak di bidang yang disukainya."
Temukan Potensi, Cari Titik Nyaman
Bila telah menemukan hal yang membuat anak tertarik, saatnya menggali bakatnya sesuai jam biologis anak. Penanganan masing-masing anak berbeda dan memiliki titik nyaman berbeda.
"Yang penting diperhatikan adalah waktu istirahat dan bersosialisasi harus seimbang. Agar anak tidak melulu berkutat dengan belajar misalnya. Idealnya sih harus ada break, sebelum konsentrasi penuh latihan. Semua tergantung pada kemampuan masing-masing."
Ada beberapa tips membentuk anak berprestasi dan bisa mengelola stres mereka, yaitu:
Perkenalkan rutinitas harian
Sebuah rutinitas sehari-hari memberi anak rasa aman karena ia akan selalu tahu apa yang dilakukan. Makan bersama, belajar dan latihan serta waktu tidur setiap hari menghindarkan kecemasan yang disebabkan menyelesaikan tugas pada menit terakhir atau lupa untuk menyelesaikannya.
Hidup sehat
Makan sehat, diet seimbang dan olahraga membantu anak mengelola stres. Sediakan camilan sehat dan hindari kebiasaan merugikan seperti minum terlalu banyak kafein.
Tetapkan aturan
Anak merasa lebih terlindungi bila ada batas tegas tentang aturan maupun hukuman. Diskusikan aturan dengan anak Anda untuk membantunya memahami mana tindakan dan perilaku yang terlarang.
Luangkan waktu bermain
Sisihkan waktu setiap hari untuk bermain dan bersantai. Biarkan anak memilih kegiatan yang mereka sukai.
Kenali stres anak
Tidak seperti orang dewasa, anak-anak tidak selalu menyadari ketika mereka stres. Keluhan sakit kepala atau sakit perut adalah tanda-tandanya. Sebaiknya orangtua memonitor perubahan mendadak dalam perilaku yang bisa menunjukkan adanya gejala emosional, agresivitas, rasa malu, kecemasan, dan ketakutan dalam situasi sosial. Cobalah cari tahu penyebabnya.
Mendengarkan
Dorong anak untuk berdiskusi mengapa dia stres dan bagaimana perasaannya. Berdiskusi tentang stres mengurangi kecemasan dan ketakutan anak. Biarkan anak tahu, orangtua selalu ada bila mereka membutuhkan teman bicara.
Ajarkan teknik mengelola stres
Ajarkan anak teknik untuk mengelola stres dengan cara yang sehat, dan berikan contoh yang baik. Kegiatan fisik seperti berjalan-jalan atau lari dapat membantu meringankan stres. Teknik pernapasan juga dapat membantu. Bantu anak menemukan cara terbaik mengelola stresnya. (umi)
Via: Cerita Dibalik Sang Juara
0 Comment to "Cerita Dibalik Sang Juara"
Post a Comment