VIVAlife - Tumbuh sebagai seorang gadis kecil yang feminin, sebut saja Dita, mengalami goncangan hebat mengenai identitas dirinya begitu memasuki masa pubertas.
Tak seperti teman sebayanya yang mulai rutin mengalami menstruasi bulanan, Dita tak pernah haid. Rambut-rambut halus juga mulai tubuh disertai perubahan suara yang menjadi besar. Yang paling menjengkelkan, dia memiliki jakun dan dadanya berdesir saat melihat teman wanita. Dita yang ayu menjadi pria!
Saat lahir, medis yang membantu kelahirannya menyatakan dirinya perempuan karena alat genital yang memperlihatkan ciri wanita. Namun yang luput dari perhatian adanya alat kelamin lelaki kecil yang juga dia miliki.
Galau menghinggapinya saat tubuhnya berkembang berbeda seperti teman putri sebaya. Bersama orangtuanya, Dita menemukan sebuah kenyataan:dia adalah seorang interseks, atau rancu seksual. Di dalam raga wanitanya, bersemayam pria.
Kondisi yang dialami Dita menjadi subjek penelitian seorang pakar genetika Indonesia, Sultana MH Faradz selama lebih dari 15 tahun. Ini pula yang menjadikan wanita kelahiran Purbalingga, 2 Februari 1952 ini memperoleh penghargaan Achmad Bakrie Award X 2012 dalam kategori kedokteran, pertengahan Agustus silam.
Studinya mengungkapkan pasien yang mengalami rancu kelamin atau interseks kerap kali mengalami kebingungan dan gangguan psikologi."Penderita kerancuan kelamin bisa saja laki-laki dengan fisik perempuan. Memiliki penis dan testis kecil, namun disertai tumbuhnya payudara, " ujarnya saat pidato penganugerahan Achmad Bakrie Award.
Sebaliknya, jika penderitanya perempuan, dia akan terlihat seperti laki-laki karena payudara tidak tumbuh, klitoris membesar menyerupai penis, perkembangan tubuh seperti laki-laki, dan kadang berjakun.
Lulusan S3 University of New South Wales 1998 ini, mengumpulkan lebih dari 200 pasien yang memiliki kerancuan kelamin. "Kerancuan kelamin bukan banci. Mereka perlu ditolong karena sering dia sendiri bingung tak mengetahui dirinya laki-laki atau perempuan," ujarnya kepada VIVAlife beberapa waktu lalu.
Penyakit Genetika
Kerancuan kelamin atau kelamin ganda umumnya diakibatkan perubahan genetika yang diturunkan dari kedua orang tua. Normalnya, laki-laki memiliki kromosom XY dan perempuan XX. Namun, tidak menutup kemungkinan laki-laki memiliki kromosom XXY atau yang disebut sebagai sindrom Klinefelter. Bahkan, ada yang memiliki kromosom X lebih dari dua.
Pengidap sindrom Klinefelter di dunia diperkirakan 1:800.000. Artinya ada satu laki-laki dengan kelebihan kromosom X pada setiap 800.000 kelahiran. Kelainan ini umumnya baru terdeteksi pada masa puber yang ditandai dengan tidak terjadinya pematangan seksual yang normal pada anak.
"Penyebabnya bisa bermacam-macam, karena telur ibu yang tidak sempurna atau DNA bapak dan ibu yang menurunkan kelainan tersebut," ujar Sultana.
Selain genetik, penyebab cacat kromosom lainnya bisa juga radiasi, makanan tak sehat, paparan polusi, hingga obat-obatan.
Kelebihan unsur X memicu seorang pria menonjolkan sifat wanita, yang antara lain ditandai dengan tumbuhnya payudara. Namun, sebagai laki-laki, ia tetap punya penis meski mungkin tidak berkembang, disebut mikropenis.
Kondisi penis yang tidak berkembang ini masih memungkinkan ereksi dan ejakulasi. Tapi biasanya tak menghasilkan sperma sehingga mengakibatkan kemandulan. Kalaupun ada cairan yang keluar hanya berupa azoospermia yaitu, cairan tidak mengandung sperma.
Secara medis, seseorang juga bisa memiliki dua jenis kromosom dalam tubuhnya seperti XX dan XXY atau dikenal dengan istilah Mosaikisme. Tak hanya cacat kromosom, kelainan hormon seks juga bisa memengaruhi penampilan dan perilaku seseorang yang berlawanan dengan kelaminnya. Kelainan hormonal pada pria memunculkan maskulinisasi tak sempurna pada pria dan maskulinisasi pada individu dengan genetik wanita.
Identifikasi dan Pengobatan
Sultana memaparkan, identifikasi kerancuan seksual tak harus menunggu hingga anak mencapai usia pubertas. Beberapa kondisi bisa diperhatikan sejak usia dini. Misalnya, seorang anak laki-laki yang buang air kecil dengan jongkok bisa menjadi tanda si anak mengalami kerancuan seksual namun malu karena dianggap tabu.
Orangtua juga harus jeli melihat kelamin anak. Bila menemukan kelainan pada kelamin anak, orangtua bisa segera mengkonsultasikannya kepada dokter.
Pemeriksaan psikologis perlu dilakukan untuk memastikan identitas gender yang diyakini, apakah anak perempuan merasa laki-laki atau sebaliknya. Suntik hormon kemudian akan dianjurkan untuk menyesuaikan diri dengan gender yang dituju. Bila diperlukan, pasien dapat menjalani operasi penegasan jenis kelamin.
"Kerancuan seksual ini ada obatnya yang harus diminum seumur hidup. Selain diobati oleh ahli genetika, ahli lain yang turut berperan adalah urolog dan psikolog," jelasnya.
Penanganan Psikolog
Probowatie Tjondronegoro MPsi, psikolog dari Universitas Semarang menyatakan solusi bagi mereka yang merasa berada di tubuh yang salah atau mengalami interseks adalah mencari lingkungan baru di tempat yang orang tak mengetahui masa lalunya.
"Di situ ia bisa leluasa membangun kembali identitas barunya, agar keyakinannya tak terkikis oleh gunjingan," kata Probowatie.
Pembiasaan dan perlakuan lingkungan juga memiliki peran penting dalam membentuk identitas baru. "Kata kuncinya adalah kumpulan kebiasaan akan menjadi perilaku," ujarnya.
Di dunia modern, kerancuan kelamin makin banyak ditemui, dan terjadi di semua kalangan. "Tadinya orang tabu untuk mengatakannya tetapi perlahan sudah mulai banyak yang bersuara," ujar Sultana.
Menurut Direktur Pusat Penelitian Biomedis (Cebior) Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini, kerancuan kelamin tak hanya menimpa masyarakat kelas menengah ke bawah. "Pasien yang berobat di Indonesia biasanya dari golongan ekonomi lemah. Karena masyarakat menengah atas memilih ke luar negeri karena keluarganya malu," ujar Sultana.
Via: Fenomena Kerancuan Seks: "Kelaminku, Dilemaku"
0 Comment to "Fenomena Kerancuan Seks: "Kelaminku, Dilemaku""
Post a Comment