VIVAlife - Gangguan mata bukanlah penyakit yang mematikan. Namun, jika dibiarkan, akan menurunkan produktivitas, yang pada akhirnya memperparah angka kemiskinan. Gangguan ini bisa disembuhkan bila ditangani secara benar.
Bertepatan dengan peringatan hari penglihatan sedunia yang jatuh pada setiap hari Kamis, Minggu kedua di bulan Oktober, WHO mengeluarkan data sebanyak 285 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan penglihatan. Dari jumlah tersebut 39 juta diantaranya mengalami kebutaan dan 246 juta menderita low vision (gangguan penglihatan sedang-berat).
"Dengan jumlah penduduk di dunia saat ini mencapai Rp 6,7 milyar. Angka gangguan penglihatan itu semakin memprihatinkan," kata Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) Cabang DIY, dr Siti Sundari, di UGM, Yogyakarta, Kamis 11 Oktober 2012.
Menurutnya faktor paling tinggi menyebabkan kebutaan di dunia dan juga di Indonesia karena penyakit katarak. Menyusul penyakit glaukoma dan penyakit diabetes militus. "Rata-rata penderita berusia diatas 50 tahun dan sebagian besar terjadi di negara berkembang seperti Indonesia,"jelasnya.
Di Yogyakarta sendiri, kata Sundari, gangguan penglihatan juga mengalami kenaikan bahkan sudah melanda siswa ditingkat SMP. Dari penelitian yang dilakukan dari sekolah SMP di perkotaan sebanyak 113 siswa 54 diantaranya mengalami gangguan penglihatan myopia atau rabun jauh. Ditingkat SMP dipinggiran kota dari 115 siswa terdapat 35 siswa yang mengalami gangguan penglihatan dan di tingkat SMP yang berada di pedesaan dari 124 siswa terdapat 17 siswa yang mengalami gangguan penglihatan.
"Sedangkan penelitian gloukoma pada 1124 subyek terdapat 87 subyek yang menderita gloukoma atau sekitar 7,7 persen," terangnya.
Dr Agus Supartoto, SpM (K) Kepala Bagian Ilmu Penyakit Mata Fakulttas Kedokteran UGM mengatakan sebagian besar pasien yang memeriksakan mata di klinik mata RSUP Sardjito Yogyakarta hampir 50 persen lebih adalah pasien dengan gangguan penglihatan akibat katarak dan sisanya akibat gloukoma dan penderita mata rabun jauh. "Dilihat dari usianya penderita katarak usianya diatas 50 tahun," jelasnya.
Klinik mata RSUP Sardjito juga memiliki alat yang canggih untuk menditeksi dini penyakit gloukoma yang juga menyebabkan kebutaan tanpa dimengerti oleh pasien.
"Semakin hari semakin banyak penderita gloukoma yang dapat dideteksi secara dini dengan alat yang canggih," paparnya.
Dapat Disembuhkan
Prof dr Suardjo, SU, SpM (Ka) Ketua Seksi Pemberantasan Buta Katarak, Perdami Cabang DIY mengatakan gangguan penglihatan 80 persen dapat disembuhkan dengan upaya pencegahan dan penanganan yang benar.
"Sejauh ini penyebab kebutaan terbanyak karena katarak. Namun penyakit katarak ini dapat disembuhkan," katanya.
Dia berharap dengan meningkatnya gangguan penglihatan yang telah dialami siswa sejak tingkat SMP maka peran pemerintah sangat diperlukan. Tidak saja dengan pemeriksan mata secara gratis namun juga pemberian kaca mata pada anak didik.
"Banyak faktor yang menyebabkan meningkatnya gangguan penglihatan pada anak-anak, diataranya kemajuan teknologi seperti playstation, komputer, televisi yang selalu diakses oleh anak-anak dan memberikan kesempatan mata untuk beristirahat." (ren)
Via: 285 Juta Warga Dunia Derita Gangguan Mata
0 Comment to "285 Juta Warga Dunia Derita Gangguan Mata"
Post a Comment