Tuesday, September 25, 2012

Terbang ke Negeri Belanda Kuno di Semarang

Salah satu sudut eksotis Kota Tua Semarang. (www.gonla.com)
Salah satu sudut eksotis Kota Tua Semarang. (www.gonla.com)

VIVAlife - Perjalanan liburan saya kemarin, mengunjungi kota legendaris di Jawa Tengah, Semarang. Saya menyebutnya sebagai negeri "Belanda" kecil. Tata kota dan hampir seluruh bangunan yang berdiri di pusat kota membawa saya dalam suasana zaman kolonial.

Sejenak terik matahari terhapus dengan kekaguman saya pada ibukota provinsi Jawa Tengah ini. Sebenarnya saya tidak begitu paham dengan silsilah kota dan pariwisata yang ada di Semarang. Saya hanya berbekal keyakinan bahwa setiap kota pasti memiliki budaya eksotis dengan caranya masing-masing.

Saya sendiri tertarik datang ke kota lumpia ini karena mendapatkan penawaran khusus dari www.gonla.comdengan harga tiket dan penginapan yang menggiurkan kantong. Gonla sendiri merupakantravel agent asli Indonesia yang memang menawarkan berbagai kota tujuan wisata dalam negeri.

Benar saja, baru saja mendarat, saya langsung terpikir untuk mengawali perburuan wisata dari ujung kota. Yakni Ambarawa. Pasalnya, di kota inilah jalur rel kereta api mulai dibangun untuk pertama kalinya oleh Pemerintah Belanda. Di museum kereta api ini terdapat peninggalan kereta api uap yang konon digunakan untuk mengangkut para pasukan Belanda.

Museum Kereta Api Ambarawa
Yang membuat saya cukup tercengang, ada sebuah lokomotif uap yang usianya sudah ratusan tahun, dan masih dapat berfungsi dengan baik.

Cukup merogoh kocek Rp10 ribu saya sudah bisa duduk manis di lokomotif uap dengan seri CC 5029. Walau terlihat tua, kereta ini tetap terpelihara dengan baik. Buktinya saya masih bisa menikmati rute singkat Ambarawa sepanjang 13 km.

Sepulang dari Ambarawa, menuju penginapan saya di Semarang, saya singgah sejenak di Lawang Sewu. Sebuah bangunan tua yang kabarnya memiliki jajaran pintu begitu banyak. Letaknya di kawasan Tugu Muda. Suasana eksotik langsung saya rasakan. Tidak seperti bayangan Lawang Sewu yang menyeramkan.

Bermodal Rp30 ribu untuk menyewa pemandu wisata, saya menelusuri bekas Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta (NIS) ini. Bangunanya megah, berlantai dua bebentuk U, dengan tangga pualam, serta ukiran kaca grafir yang luar biasa megah dan indah. Ada juga bekas penjara bawah tanah, sayangnya saya tidak sempat mengintipnya.

Lawang Sewu Semarang

Dari Kota Tua berakhir di Wingko Babad
Nampaknya keistimewaan kota Semarang, semakin membuat saya terhanyut dalam eksotika peninggalannya. Selain Lawang Sewu, esoknya saya berniat melancong ke Kota Tua di sepanjang jalan Jendral Suprapto. Bangunan-bangunan ini sudah berdiri kokoh sejak sekitar tahun 1500an. Kota Tua atau Little Netherland, menyimpan segudang cerita.

Disini banyak tempat yang bisa saya kunjungi. Gereja Blenduk yang bernama asli Nederlandsch Indische Kerk,Gedung Marba, Jembatan Berok, serta Stasiun Tawang.

Usai seharian berkeliling kota lama Semarang, langkah saya berakhir pada wingko babad. Oleh-oleh khas Semarang ini dapat dengan mudah saya temui di dekat stasiun induk Kota Semarang, Stasiun Tawang.

Tak lengkap rasanya jika saya tidak membawa wingko babad cap Kereta Api Semarang. Makanan ini termasuk makanan legendaris di kalangan wisatawan.

Rekomendasinya, wingko babad produksi D Mulyono. Memiliki bentuk yang bulat dan pipih dari adonan ketan, kelapa, gula pasir, garam, dan air. Cara pembuatannya terbilang unik, karena dipanggang diatas arang dalam tungku.

Inilah yang membuat wingko babad memiliki cita rasa yang khas. Saya juga bisa memilih variasi rasa, seperti wingko rasa cokelat, nangka, durian, dan pisang. Harganya juga cukup murah, Rp3.000 per bungkus untuk dihadiahkan pada teman-teman di Jakarta.


Via: Terbang ke Negeri Belanda Kuno di Semarang

Share this

0 Comment to "Terbang ke Negeri Belanda Kuno di Semarang"

Post a Comment