VIVAlife - Saat diresmikan 50 tahun lalu, 5 Agustus 1962, Hotel Indonesia menjadi tonggak sejarah pariwisata negeri ini. Ia menjadi cikal bakal gaya hidup dan pergaulan, sekaligus ikon bagi ibu kota. Sesuai cita-cita Presiden Soekarno saat meresmikan HI, hotel ini bisa menunjukkan wajah Indonesia sesuai kepribadiannya.
Suatu hari VIVAlife menjelajah hotel bersejarah ini dan melihat warisan sejarah yang selama ini ternyata masih ada di sana dan menjadi saksi bisu perkembangan peradaban.
Pertama, kami menyaksikan ketakjuban lukisan karya Lee Man Fong yang sejak pertama diresmikan, sudah menjadi bagian integral dari tembok HI. Lukisan dari seniman kesayangan Bung Karno itu diletakkan di lobi Bali Room, dan terlihat mencolok berwarna hijau bersanding dengan dinding yang bersih.
Ini dilukis menggunakan cat minyak di atas papan dan langsung ditempel di sini. Temanya mencerminkan kekayaan Indonesia, karena menghadirkan warna warni flora dan fauna kita, terang Suwarno, pengajar seni rupa di Institut Kesenian Indonesia yang mendampingi tur.
Setelah menikmati lukisan, kami ditunjukkan lift mungil yang ternyata pernah menjadi lift pertama di Indonesia. Meski sudah direnovasi karpet dan handle-nya, lift ini tetap dipertahankan keasliannya, termasuk bentuknya yang hanya muat sekitar lima orang.
Di dinding depan lift, terpampang foto dokumentasi presiden pertama RI ketika berpidato meresmikan hotel. Juga terdapat foto tamu pertama HI, yakni Allen Artwart yang datang dengan becak. Ia disambut langsung oleh manager HI pertama, William Land. Memandangi foto-foto itu, apalagi berada di depan lift pertama di Indonesia, rasanya seakan terlempar kembali ke masa lampau.
Dari lantai dasar, kami langsung naik ke lantai 16, yang pernah menjadi tempat hiburan paling tenar di Jakarta, Nirwana Supper Club. Kini, tempat itu telah dialihfungsikan sebagai function room. Di lorong lantai 16, terdapat sebuah karya mosaik indah dari bebatuan warna warni yang dibentuk menjadi patung. Warisan ini merupakan salah satu yang dipertahankan dari renovasi bangunan hotel. Sayang, tidak terlacak siapa pembuatnya dan tahun berapa dibuat.
Itu bukan satu-satunya mosaik indah yang bisa ditemukan di HI. Kami tak henti-hentinya berdecak kagum saat turun kembali ke Paviliun Ramayana, yang sekeliling dindingnya dipenuhi mosaik dari potongan-potongan keramik. Karya G Sidharta yang dibuat tahun 1961 ini menggambarkan kesenian tradisional Indonesia karena tiap bagiannya ternyata mengisahkan cerita rakyat asli negeri kita.
Butuh teknik dan keterampilan yang cukup tinggi karena ini harus menempel sambil membentuk, tutur Suwarno. Awalnya, ruangan ini menjadi pusat kesenian dan pertunjukan. Kemudian, fungsinya bergeser menjadi tempat pesta, lengkap dengan mini bar, tempat DJ, dan lampu disko. Mulai tahun ini, ruangan itu belum difungsikan lagi.
Bukan hanya lukisan dan mosaik yang menjadi warisan sejarah seni di HI. Masih di Paviliun Ramayana, terdapat sebuah relief apik yang diciptakan oleh Soerono, dibantu 6 kawannya. Relief berjudul Gadis-Gadis Bhinneka Tunggal Ika, menggambarkan perempuan yang mengenakan pakaian adat berbeda-beda. Relief itu bersanding cantik dengan keindahan alam taman HI serta patung Gadis Mandi karya CS Sulistyo buatan tahun 1962.
Terakhir, kami menuju bagian depan lobi HI, dan terkesima melihat relief berukuran 30 meter persegi. Temanya, tentang kehidupan masyarakat Bali. Dari ujung kiri ke ujung kanan menggambarkan dinamika kehidupan dari yang tradisional sampai modern, komentar Suwarno. Detailnya sangat perfek. Bukan hanya detail anatominya, tetapi juga ornamen pakaian yang digunakan objek dalam relief. Bahkan motif sarungnya terukir dengan rapi.
Relief itu dibuat dari tahun 20 Desember 1961 dan baru selesai 20 April 1964. Pekerjaannya dilakukan oleh 52 orang di bawah naungan Sanggar Selabinangun, yang disutradarai oleh Harijadi S. Sayangnya, peletakannya kurang strategis di sudut, sehingga seringkali tertutup mobil yang parkir.
Via: Patung Gadis Mandi Ada di Hotel Indonesia
0 Comment to "Patung Gadis Mandi Ada di Hotel Indonesia"
Post a Comment