Wednesday, August 7, 2013

Siasat Sehat Santap Hidangan Lebaran

Batasi makanan bersantan untuk menghindari peningkatan kolesterol buruk. (indonesiaeats.com)
Batasi makanan bersantan untuk menghindari peningkatan kolesterol buruk. (indonesiaeats.com)
VIVAlife- Biasanya puncak kesibukan dapur adalah sehari sebelum Hari Raya Idul Fitri tiba. Para ibu sibuk mempersiapkan menu khas hidangan Lebaran.
Rupa-rupa aroma masakan tercium dan menggoda lidah untuk mencicipinya.

Mulai dari opor ayam, rendang, gulai, hingga ketupat sayur. Belum lagi, kudapan manisnya, seperti tapai ketan, kolang-kaling serta kue-kue. Nastar, kastangel, brownies, cake, lapis legit juga tiramisu. Semua mulai dirapihkan, berjajar, di meja ruang tamu. Menggugah selera.

Setelah hari kemenangan itu tiba, selepas satu bulan berpuasa, aneka hidangan lezat ini bisa membuat kita lupa diri. Jika tak dibatasi, lezatnya aneka menu khas Lebaran ini bisa merusak pola makan yang telah diatur selama satu bulan berpuasa.

Siapapun harus waspada, dan diperlukan kebijakan berpikir sebelum menyantapnya. Sebab, semua makanan yang terhidang di hari Lebaran tersebut, umumnya mengandung lemak dan kalori yang sangat tinggi. Jika tak disiasati, efeknya, bisa tak baik untuk kesehatan.

Kolesterol mengintai

Walau hidangan hari raya sangat lezat, tapi menyantapnya kadang berujung sesal. Ini terkait pola makan mendadak berubah akibat sajian menggoda yang melimpah. Sajiannya, khas dengan racikan santan, berminyak, berlemak, dan mengandung kolesterol tinggi.

Meski sadar efek buruknya terhadap kesehatan, bukan perkara mudah menghindari. Sebab, tradisi berkunjung ke rumah sanak saudara sejak Lebaran hari pertama kerap memunculkan rasa sungkan jika tak menyantap sajian nikmat itu. Alhasil, tubuh terjejali lemak jahat dalam jumlah banyak selama beberapa hari berturut-turut. Serangan hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, asam urat, dan penyakit jantung pun berpotensi kambuh jika tidak dapat menahan diri.

Ketua Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Hardinsyah punya saran menarik. Kata dia, sebaiknya hindari langsung berpesta dengan hidangan bersantan dan berlemak usai menjalankan ibadah salat Idul Fitri. Apalagi, hari masih pagi.

"Jangan langsung minum sirup juga. Akan lebih baik nikmati buah segar dulu. Dua atau tiga potong kue Lebaran tidak apa, asal jangan langsung dihajar daging dan makanan berlemak," katanya.

Dokter gizi dari Universitas Indonesia, Fiastuti Witjaksono pun mengungkapkan hal sama. Memanjakan perut dengan makanan nikmat sebaiknya juga cukup dua hari.

Selanjutnya, segera kembali ke pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi makanan mengandung serat seperti buah dan sayur. Konsumsi buah dan sayur tak hanya membantu menyerap lemak jahat yang menumpuk, tapi juga memperlancar sistem pencernaan. "Hampir semua buah dan sayur efektif membantu menyerap lemak dan gula," ujarnya.

Kandungan serat atau prebiotik juga menjadi elemen penting dalam proses pencernaan makanan, terutama usai sebulan puasa. Di antara jenis buah-buahan seperti pisang, apel, jeruk, pepaya, mangga, dan nanas, kiwi hijau terbukti memiliki kandungan serat tertinggi.

Fiastuti menjelaskan dua tipe serat. Pertama, serat larut yang membantu penyerapan gula lebih lambat, sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah tidak berlebihan dan tidak turun drastis. Jenis serat ini juga dapat mengikat lemak sehingga kadar lemak darah lebih stabil.

Kedua, serat tak larut yang membantu menjaga kesehatan usus, memberi makan bakteri baik, dan memperlancar buang air besar. Sel-sel usus yang sehat akan mencegah masuknya bakteri dan racun ke dalam tubuh, serta meningkatkan daya tahan tubuh.

"Kekurangan serat tak larut akan membuat kita susah buang air besar. Akibatnya, racun, bakteri, dan kotoran akan bertahan lebih lama di usus sehingga merusak sel-sel usus," kata Fiastuti.

Sudah turun, naik Lagi

Puasa memang menyehatkan, tentu jika pintar mengatur dan dan memilah menu makanan. Dengan mengurangi satu kali pola makan sehari-hari di saat berpuasa, dipastikan dapat mengurangi berat badan.

Terutama bagi mereka yang memiliki berat badan berlebih alias kegemukan (obesitas). Yang beratnya normal pun, biasanya setelah sebulan berpuasa akan mengalami penurunan.

Dengan berkurangnya berat badan usai berpuasa, sebetulnya kondisi tubuh dalam keadaan sangat baik. Sebab, sistem dalam tubuh yang biasanya dijejali makanan terus-menerus, mendapat waktu sebulan untuk beristirahat. Nah, setelah berpuasa, sistem tubuh kembali aktif dan pencernaan jadi membaik. Tapi saat Lebaran, biasanya kerja keras puasa utuk menurunkan berat badan, dirusak dengan makan berlebihan saat hari raya.

Oleh karena itu, di saat Lebaran hendaknya direncanakan untuk tidak makan secara berlebihan. "Banyak hal yang bisa siasati untuk dapat menjaga berat badan, namun tetap dapat menikmati hidangan-hidangan Lebaran. Jangan sampai, dua hari Lebaran malah dapat membuat berat ada naik beberapa kilo," kata ucap Chef Gungun Chandra, Senior Sour Chef Unilever Food Solution saat ditemui di acara Jakarta Food Editor's Club Gathering.
Untuk mengatasi fenomena kegemukan paska Lebaran, Chef Gugun punya tips yakni:

1. Batasi jumlah kalori yang dikonsumsi agar menjaga tingkat kalori tetap normal. Kalori diperoleh dari karbohidrat, protein dan lemak. Asupan kalori yang berlebih dapat menyebabkan kegemukan. Contohnya, jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan atau minuman manis.

2. Makanlah dengan piring kecil. Ini, untuk menghindari makan berlebihan.

3. Makanlah sayuran dan buah-buahan untuk mencegah sembelit dan gangguan pencernaan saat Lebaran, hal ini juga untuk mengimbangi makanan berlemak yang dikonsumsi.

4. Makanlah secara perlahan-lahan.

5. Hindari ke meja makan dua kali. Tunggu beberapa saat untuk mengira apakah Anda memang cukup lapar untuk porsi berikutnya.

6. Makanlah buah sebelum makan berat, sehingga perut sudah terasa kenyang sebelum makan berat lainnya.

7. Imbangi masuknya kalori dengan membakar kalori, yakni dengan olahraga yang rutin saat libur Lebaran.

Penyakit usai Lebaran

Bukan hanya berat badan yang melonjak saat Lebaran berakhir. Spesialis penyakit dalam dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo bahkan menyatakan, banyak penyakit kronis mengintai karena faktor atau pengaruh hidangan Lebaran.

Mereka yang tak mampu mengontrol makanan dengan baik saat Lebaran, maka penyakit kronis rentan meningkat, seperti hipertensi, kolesterol, asam urat, serta gula darah yang tak terkontrol.

Bukan hanya itu, ketika puasa, tubuh tak menerima banyak asupan makanan. Namun ketika puasa usai, keingingan seseorang untuk mengkonsumsi makanan berlemak dan berkolesterol tinggi meningkat saat Lebaran. Maka tak jarang, banyak orang menderita diare saat hari raya.

"Ini karena mereka terlalu banyak makan yang menyebabkan perut menjadi kaget untuk mencerna."

Penyebabnya memang diakui karena makanan. Namun, penyakit kronis dan berbahaya ini tidak akan terjadi jika Anda mengkonsumsi makanan dalam jumlah moderat.

Menyiasati agar penyakit kronis tak datang kata Ari sesungguhnya juga sangat mudah. Bagi penderita jantung, diabetes, kolesterol, dan hipertensi, mereka dapat mengkonsumsi sayur dan buah lebih banyak. Mengapa? Ini karena asupan buah dan sayur bisa menciptakan rasa kenyang lebih lama. Jadi, ketika tergoda menikmati menu khas Lebaran, Anda pun bisa mengontrol dan mengendalikannya.

"Sayur dan buah bisa menyerap kolesterol dan gula lebih cepat dalam usus, sehingga penumpukannya tak akan cepat terjadi," kata Ari. Ia pun mengingatkan, bukan hanya makanan khas Lebaran yang bisamenimbulkan penyakit.

Tetapi, jajanan tak sehat yang banyak dikonsumsi pasca Lebaran seperti bakso, mie ayam dan lainnya, juga berkemungkinan menyebabkan diare. Untuk itu, hindari pula makanan tersebut dan jangan dikonsumsi terlalu banyak.

Agar kondisi kesehatan tubuh lebih terkontrol, disarankan pula melakukan check-up kesehatan. Ini penting bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes, kolesterol, hipertensi dan sakit jantung. Tapi bagi yang sehat, dianjurkan pula menjalani puasa syawal, agar asupan makanan yang berlebih bisa terkontrol kembali.

Tips masak sehat

Untuk menyiasati agar hidangan khas Lebaran lebih sehat, Chef Gungun Chandra, juga punya solusinya. Berikut tipsnya:

-Untuk membuat opor ayam yang lebih sehat, buang kulitnya. Diyakininya, kulit ayam mengandung lemak lebih banyak dibandingkan bagian ayam yang lainnya.

-Untuk membuat masakan daging, pilihlah daging tanpa lemak untuk membuat rendang.

-Lebih baik jika Anda memasak hidangan Lebaran untuk satu hari saja, karena terlalu sering menghangatkan makanan akan menyebabkan rusaknya nutrisi yang terkandung dalam makanan tersebut.

-Anda bisa mengganti beras merah untuk membuat ketupat, karena beras merah mengandung rendah kalori dan serat yang lebih banyak dibandingkan beras putih.

Selamat berlebaran!


Via: Siasat Sehat Santap Hidangan Lebaran

VIDEO: Oleh-oleh Mudik, Tahu Bakso Khas Ungaran

Tahu bakso khas Ungaran diminati pemudik (VIVAnews/Lutfi Dwi Astuti)
Tahu bakso khas Ungaran diminati pemudik (VIVAnews/Lutfi Dwi Astuti)
VIVAlife - Bagi pemudik yang lewat jalur Semarang dan Ungaran, Jawa Tengah dapat mencicipi tahu bakso khas Ungaran. Bakso ini nikmat disantap saat berbuka puasa maupun dijadikan oleh-oleh untuk kerabat.

Penganan ini berbahan tahu dan daging. Tahu yang berisi bakso ini mulai kondang tahun 2000an silam. Meski khas Ungaran, namun kemudian juga menjadi penganan khas Semarang selain lumpia dan bandeng presto.

Anda bisa melahapnya di tempat. Pun, bisa menentengnya untuk oleh-oleh. Soal rasa, banyak yang suka.

Selengkapnya, tonton di tautan video ini.

Tahu bakso ini ada dua macam, yaitu yang basah dan yang kering. Tahu yang basah bisa langsung dilahap tanpa digoreng dahulu karena sudah direbus matang sebelum dikemas.

Ramainya pembeli tahu bakso ini membuat penjualnya sumringah. "Saat ini menjelang lebaran ini meningkat 40 persen dibanding biasa," kata Didik Trimurdoko, penjual tahu bakso.

Via: VIDEO: Oleh-oleh Mudik, Tahu Bakso Khas Ungaran

Cara Mudah Identifikasi Orang Bohong dan Simpan Rahasia

Mengidentifikasi kebohongan melalui pesan email (http://www.dearryk.com)
Mengidentifikasi kebohongan melalui pesan email (http://www.dearryk.com)
VIVAnews - Bagi sebagian besar orang, saat rekan kerja atau teman menyembunyikan sesuatu, bisa jadi masalah atau rekan tidak sepenuhnya menyampaikan apa yang sebenarnya dialami. Juga jadi masalah kalau teman Anda tidak jujur dalam suatu hal.

Nah, peneliti telah mempelajari studi untuk mengidentifikasi kebohongan seseorang, melalui pesan email seseorang.

Dilansir Telegraph, Selasa 6 Agustus 2013, sebuah studi Carnegie Mellon University, Pittsburgh, Pennsylvania, AS, yang dilaporkan Scientific American menemukan orang yang menyembunyikan kebenaran atau rahasia memiliki pola komunikasi email yang berbeda.

Peneliti Carnegie Mellon itu menyebutkan orang yang berbohong ternyata banyak menampilkan bahasa yang lebih menipu, lebih banyak emosi negatif dan lebih sedikit menggunakan kata-kata seperti "saya" atau "aku".

Studi juga menyebutkan panjang dan jumlah email juga bisa jadi petunjuk, seperti halnya tulisan email yang ditulis lebih lama setelah seseorang menerima email sebelumnya.

Untuk menyingkap kebohongan penulis email, peneliti Carnegie Mellon melibatkan 62 orang dewasa yang mengaku merahasiakan kebenaran yang mengubah hidup.

Studi mencatat, lebih dari setengah responden itu menjaga rahasia romantis atau seksual, sedangkan responden yang lain menyembunyikan sesuatu yang berkaitan dengan keluarga, kesehatan mental, pekerjaan sampai masalah hukum.

Peneliti juga menyampaikan mereka menjaring komunikasi email selama satu tahun dari email responden. Waktu itu, termasuk beberapa saat sebelum peneliti mengetahui rahasia responden.

Temuan tim Carnegie Mellon juga sesuai dengan studi lain yang dilakukan peneliti University of Texas, Austin, AS.

Peneliti University of Texas, James Pennebaker, bersama rekannya telah mempelajari email dari wanita, yang cenderung ingin menyembunyikan episode depresi dari teman-teman mereka.

Pennebaker bersama rekannya menemukan wanita lebih banyak mengirimkan email dan menggunakan kata lebih banyak di dalam email, saat merasa tertekan dibanding saat mereka berada dalam pengampunan. Dan, kondisi itu lebih dari wanita yang dalam keadaan normal.

Wanita juga tercatat menggunakan ekspresi emosi negatif lebih sedikit, dan menggunakan lebih banyak kata emosi positif maupun kata "I" dan "me".

"Orang yang depresi menghabiskan banyak waktu untuk berkedok. Mereka menggunakan strategi komunikasi untuk tampil lebih gembira," jelas Pennebaker.

Pada penelitian sebelumnya, Pennebaker beserta timnya menemukan pola bahasa khusus yang digunakan politisi dunia dalam menjaga rahasianya.

Misalnya, pola komunikasi Presiden George W Bush, yang lebih sedikit menggunakan kata ganti tunggal seperti "I", "me" atau "my" selama berbulan-bulan sebelum invasi ke Irak.

Presiden AS ke-33, Harry S. Truman, kata Pennebaker, juga melakukan hal yang sama sebelum negara adidaya itu menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Jepang pada masa perang dunia kedua.

Baru-baru ini, tim Pennebaker juga menganalisis bahasa yang digunakan bomber bom maraton Boston, Dzokhar Tsarnaev. Menurut dia, teroris itu juga menggunakan kata ganti orang pertama jauh lebih sedikit dalam pesan Twitter-nya sejak Oktober 2012.

Kedua studi tersebut telah dipresentasikan pada konvensi tahunan American Psychological Association pekan lalu. (art)

Via: Cara Mudah Identifikasi Orang Bohong dan Simpan Rahasia

Studi: Bawang Putih Tekan Risiko Kanker Paru-paru

Bawang putih telah lama dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. (iStock)
Bawang putih telah lama dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. (iStock)

VIVAlife - Bawang putih memang bisa menimbulkan bau tak sedap pada mulut. Namun, bukan berarti Anda memiliki alasan untuk tidak mengonsumsinya.

Rempah yang satu ini ternyata memiliki khasiat yang luar biasa bagi kesehatan. Apalagi, jika dikonsumsi langsung dalam kondisi mentah.

Sebuah penelitian terbaru di China mengungkap, bawang putih mentah bisa menekan risiko seseorang terkena kanker paru-paru. Seperti dilansir laman Daily Mail, mereka yang mengonsumsi bawang putih mentah secara teratur, 44 persen lebih kecil kemungkinannya menderita penyakit kanker paru-paru.

Bahkan, efek yang sama juga terjadi pada para perokok yang mengonsumsi bawang putih mentah. Peneliti menemukan bahwa risiko terkena kanker paru-paru berkurang sekitar 30 persen pada para perokok yang mengonsumsi rempah tersebut.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cancer Prevention Research ini, ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Provinsi Jiangsu membandingkan 1.424 pasien kanker paru-paru dengan 4.500 orang dewasa yang sehat. Masing-masing ditanya mengenai kebiasaan makan dan gaya hidup mereka. Termasuk seberapa sering mengonsumsi bawang putih dan apakah mereka merokok.

Hasilnya, mereka yang mengonsumsi bawang putih mentah setidaknya dua kali selama sepekan, secara signifikan lebih kecil kemungkinannya terkena kanker paru-paru. Bahkan, jika mereka merokok atau terkena suhu tinggi asap minyak goreng yang dianggap sebagai salah satu pemicu kanker paru-paru.

"Bawang putih memiliki potensi yang berfungsi sebagai agen pencegahan untuk kanker paru-paru," ujar para peneliti.

Lebih lanjut, tidak disebutkan apakah bawang putih yang telah dimasak akan memiliki efek yang sama. Namun, penelitian sebelumnya mengungkap bahwa senyawa penting yang disebut allicin akan terlepas saat bawang putih dihancurkan atau dicincang.

Allicin sendiri dikenal memiliki khasiat untuk meredam peradangan dalam tubuh dan berperan sebagai anti-oksidan. Studi lainnya juga menyebut bahwa bawang putih dapat membantu menangkal flu biasa dan bahkan malaria.

Khasiat bawang putih untuk kesehatan memang bukan hal yang baru lagi. Penelitian yang dilakukan University of South Australia menemukan bahwa bawang putih bisa memangkas risiko kanker usus hampir sepertiganya. (art)


Via: Studi: Bawang Putih Tekan Risiko Kanker Paru-paru

FOTO: Soca, Keindahan Sungai Langka di Dunia

Sungai Soca. (TravelingOtter/flickrs.com)
Sungai Soca. (TravelingOtter/flickrs.com)
VIVAlife - Masih ingat gambaran film Chronicles of Narnia: Prince Caspian? Ya, salah satu adegan di film tersebut mengambil latar belakang keindahan sungai berwarna hijau jamrud. Sungai itu bernama Soca, atau kerap disebut sebagai "The Emerald Beauty".

Soca membentang sepanjang 136 kilometer. Dari Slovenia Barat melalui Timur Laut Italia dengan melintasi lembah dan gunung kapur, sebelum bermuara di Laut Adriatik yang merupakan bagian dari Laut Tengah.

Karena kejernihan dan warna hijaunya ini, Soca disebut-sebut sebagai sungai yang cukup langka di dunia. Tak hanya itu, pemandangan di sepanjang sungai juga sangat menakjubkan. Pepohonan rimbun dan udara sejuk.

sungai soca
Banyak pelancong yang bertandang ke sana hanya untuk merasakan sensasi berperahu di aliran tenang Soca. Di beberapa titik, Soca memang mengalir tenang. Namun, di titik yang lain, dasar sungai terbentuk dari bebatuan yang kemudian digunakan sebagai lokasi olahraga arung jeram.

sungai soca

Di kanan kiri sungai, para wisatawan juga dapat melakukan aktivitas lain seperti paralayang atau sekadar bersepeda sambil menikmati udara segar. Tak perlu khawatir, lokasi sungai ini tidak terpencil. Banyak juga rumah warga yang bisa disinggahi untuk beristirahat. (art)

Via: FOTO: Soca, Keindahan Sungai Langka di Dunia