Tuesday, May 1, 2012

Bebas Diabetes Berkat Terapi Stem Cell


VIVAnews - Berkembangnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi memang sangat memberikan manfaat bagi manusia. Seperti halnya dengan manfaat stem cell atau sel punca. Teknologi ini mampu mengobati penyakit serius seperti diabetes dan luka bakar.

Anda Kecanduan Kerja? Lakukan Tes Ini


Pandangan mata tak bisa lepas dari ponsel pintar, selalu memeriksa email atau memantau pekerjaan. Tubuh memang sedang berada di rumah bersama buah hati, berbelanja di mal, atau mungkin makan malam dengan keluarga, tapi fokus pikiran siapa yang tahu.

Terdengar melelahkan atau menyedihkan? Tapi, bagi sebagian orang, kondisi tersebut adalah hal wajar. Justru, ketika mereka tak bisa mengetahui informasi terbaru soal pekerjaan, muncul kepanikan. Ini merupakan obsesi terhadap pekerjaan yang tanpa disadari sudah menjadi bentuk kecanduan.

Untuk mengetahui apakah seseorang termasuk workaholic atau kecanduan kerja, peneliti dari Norwegia dan Inggris mengembangkan sebuah metode. Metode yang diberi nama "Bergen Work Addiction Scale" ini berfungsi mengukur obsesi seseorang terhadap pekerjaannya.

Terdapat tujuh kriteria di dalamnya, yang bisa dites dengan menjawab pertanyaan. Jawaban pertanyaan, terdiri atas lima, yaitu "tidak pernah", "jarang", "kadang", "sering" dan "selalu".

"Dengan melakukan tes sendiri, pekerja bisa mengukur apakah dia bukan tipe orang yang kecanduan kerja, sedikit kecanduan kerja atau memang sangat kecanduan," kata Cecilie Schou Andreassen dari Fakultas Psikologi University of Bergen Andreassen, dikutip dari NY Daily News.

Penasaran seperti apa tesnya? Cukup jawab tujuh pertanyaan di bawah ini secara jujur, dengan kategori jawaban  "tidak pernah", "jarang", "kadang", "sering" atau "selalu".

1. Anda berpikir bagaimana agar bisa bekerja lebih lama?

2. Anda menghabiskan lebih banyak waktu untuk bekerja daripada yang seharusnya?

3. Anda bekerja untuk mengurangi perasaan khawatir, bersalah, tak bisa membantu atau depresi?

4. Anda pernah diperingatkan pasangan, sahabat, atau orang terdekat untuk mengurangi kesibukan, tapi tak pernah mendengarkannya?

5. Anda menjadi stres jika memiliki akses terbatas untuk bekerja?

6. Anda melupakan hobi, kesukaan atau waktu bersantai karena pekerjaan?

7. Anda sangat sibuk bekerja hingga mengalami masalah kesehatan?

Menurut penelitian, jika Anda menjawab "sering" atau "selalu" pada empat pertanyaan atau lebih, Anda dalam bahaya. Obsesi pada pekerjaan begitu tinggi, hingga membuat kecanduan dan memunculkan kepanikan dan stres saat tak bisa mengaksesnya.

Sensasi Mandi Es Bagi Kesehatan


VIVAnews - Masyarakat Jepang memiliki tradisi unik menyambut tahun baru dengan mandi air es. Jika mereka melakukannya atas keyakinan pembersihan pikiran tubuh, masyarakat di sejumlah negara memiliki ritual mandi air es atas nama kesehatan.

Ada pemahaman yang menyebut berendam air es dapat mencegah atau mengurangi nyeri otot usai olahraga. Dikenal sebagai cryotherapy.

Hanya mitos atau memiliki bukti ilmiah? Tim peneliti dari University of Ulster, Irlandia Utara, mengatakan bahwa mandi air es berperan mengurang inflamasi otot yang dapat memicu kekakuan, bengkak, dan nyeri usai olahraga.

Chris Bleakley, penulis utama penelitian, mengatakan, mandi air es membantu memulihkan ketegangan otot usai olahraga yang melelahkan. "Efeknya mengistirahatkan otot," katanya, dikutip Reuters.

Penelitian melibatkan 366 orang. Dalam 17 uji klinis, peneliti meminta partisipan berendam di dalam air es bersuhu 10-15 derajat dengan waktu bervariasi antara 5-24 menit. "Kami menemukan beberapa bukti bahwa berendam di air dingin setelah olahraga bisa mengurangi nyeri otot," ujarnya.

Meski demikian, peneliti memeringatkan kemungkinan efek buruk jika melakukan dalam jangka panjang. Perlu ada pertimbangkan bahwa berendam air es bisa mengejutkan suhu tubuh. "Kami harap Anda tak melakukan sesuatu yang berisiko dengan berendam air es dalam durasi sangat lama." (eh)

Enam Penyakit Kronis Mengintai Orang Muda


VIVAnews - Gaya hidup yang buruk menurunkan kualitas kesehatan. Tak hanya meningkatkan risiko penyakit tertentu, tapi juga membuat tubuh ringkih sehingga mudah terserang penyakit di usia dini.

Sejumlah penyakit yang umumnya menyerang seseorang di masa tua, mulai menghinggapi kalangan muda. "Ini karena banyak orang muda berpikir sok sehat, sehingga cenderung menerapkan gaya hidup buruk," kata Dr Georges Benjamin, direktur eksekutif American Public Health Association.

Berikut beberapa penyakit yang mulai mengancam masyarakat di usia dini, seperti dikutip Fox News.

Stroke
Usia khas: 65 tahun ke atas
Mulai mengancam: usia 20an dan 30an

Stroke berhubungan dengan sejumlah faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, obesitas, dan kolesterol tinggi. Satu-satu cara adalah memperbaiki gaya hidup dengan mengatur pola makan sehat dan olahraga teratur.

Dr Shazam Hussain, kepala Cleveland Clinic Stroke Program, merekomendasikan untuk tidak merokok, mengurangi garam, asupan lemak trans, makan ikan dua kali seminggu, dan berolahraga. "Berjalan kaki 30 menit sehari, sudah memberi efek baik," katanya.

Diabetes Tipe 2
Usia khas: 40an dan 50-an tahun
Mulai mengancam: anak-anak

Jadikan asupan makanan terbaik sebagai obat. "Pola makan dan gaya hidup memainkan peran penting dalam peningkatan jumlah anak muda dengan diabetes tipe 2," kata Dr Michelle F Magee, direktur MedStar Diabetes Institute.

Mayoritas mereka yang terdiagnosisi mengalami kelebihan berat badan, terutama dengan konsentrasi lemak di sekitar pinggang. Karenanya, pastikan untuk menghindari makanan dengan kadar glikemik tinggi, dan rendah serat. Hindari pula makanan berpengawet.

Osteoporosis
Usia khas: 65 tahun ke atas
Mulai mengancam: usia 50an

"Penting untuk memperhatikan kesehatan tulang sedini mungkin dengan suplemen vitamin D dan asupan kalsium. Jangan menunggu!" kata Dr Kathryn Diemer, direktur klinis program kesehatan tulang Washington University School of Medicine.

Lakukan latihan teratur yang membantu pembentukan otot dan memperkuat tulang seperti jogging, berjalan di tangga atau mendaki. Perbaiki pula gaya hidup Anda. "Rokok, alkohol, dan minuman bersoda benar-benar beracun untuk tulang," kata Diemer.

Kanker Payudara
Usia khas: 45 tahun ke atas
Mulai mengancam: remaja

Dr Ann Partridge, direktur program remaja putri dengan kanker payudara di Dana -Farber Cancer Institute, mengatakan bahwa olahraga teratur, mempertahankan berat badan ideal, dan membatasi asupan alkohol membantu mengurangi risiko penyakit ini.

Alzheimer
Usia khas: 65 tahun ke atas
Mulai mengancam: sejak 40an tahun

Dr Gustavo Alva dari American Board of Psychiatry, mengatakan bahwa kita bisa melatih tubuh dan pikiran untuk menurunkan risiko mengalami masalah ini di usia dini. Aktifkan bagian otak yang jarang digunakan. Belajar bahasa baru atau memainkan alat musik cukup membantu melawan penurunan kognitif.

"Menjaga tingkat kolesterol, tekanan darah, dan kebugaran tubuh juga penting karena apa yang baik untuk jantung juga baik untuk otak," Alva menambahkan.

Melanoma
Usia khas: 50an tahun ke atas
Mulai mengancam: remaja menjelang dan awal usia 20an

Dalam laporan jurnal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention, sejumlah pakar medis memperingatkan remaja dan orang dewasa untuk tidak melakukan tanning tanpa pengetahuan yang baik. Prosedur tanning bisa meningkatkan risiko tiga kali lipat mengalami penyakit ini.

Selain itu, penting untuk selalu menggunakan tabir surya, terutama jika bepergian ke luar rumah. "Sebisa mungkin mengurangi intensitas berada di bawah sinar matahari antara pukul 10 pagi hingga dua siang," kata Dr Thomas S Kupper, profesor dermatologi di Harvard Medical School.

Rahasia Tubuh Langsing dari Lima Negara


VIVAnews - Ada hal positif yang bisa Anda contek dari warga Jepang, Belanda, Norwegia, Singapura dan Kuba. Mereka ternyata memiliki kebiasaan menyenangkan dan bisa diandalkan untuk menurunkan berat badan.

Tak ada salahnya meniru kebiasaan mereka. Siapa tahu, kebiasaan sehat warga di lima negara tersebut bisa membuat tubuh lebih fit serta menurunkan berat badan dengan lebih efektif.

Jepang
Semua orang di Jepang akan langsung mengangkat tangan ke atas begitu mengenali lantunan musik khas berirama ceria dari piano. Stasiun radio nasional Jepang memang memutar musik khas tersebut setiap pagi selama 15 menit sebagai isyarat untuk membimbing warga melakukan peregangan sebelum menjalani rutinitas.

Gerakannya berupa peregangan sederhana yang diajarkan juga pada anak-anak sekolah dasar. Dimulai pada sekitar 1920an, kebiasaan sehat satu ini masih dilakukan hingga sekarang. Termasuk, di perusahaan-perusahaan besar.

"Peregangan membantu aliran darah ke otot, meningkatkan fleksibilitas dan membuat tubuh lebih tegap," kata Dr Mehmet Oz, seperti dikutip dari Oprah.com.

Belanda
Pergi ke kantor, ke pasar, berjalan-jalan, hingga kencan dilakukan warga Belanda dengan bersepeda. Jika mengunjungi kerabat atau keluarga, di keranjang sepeda terdapat bunga tulip segar sebagai hadiah.

Aktivitas bersepeda di Belanda memang didukung dengan sarana yang lengkap sehingga para warga menjadikannya sebagai gaya hidup. Mengayuh sepeda  akan membuat otot paha depan dan paha belakang, bekerja lebih keras. Efeknya bisa mengencangkan paha dan kaki, termasuk membuat perut lebih kecil.

Singapura
Berbagai taman di Singapura, baik untuk publik maupun dalam kompleks kondominium terdapat jalan berkerikil berbentuk mosaik. Jalan batu ini dibuat bukan hanya atas nama estetika tapi juga untuk dimanfaatkan sebagai pijat refleksi.

Penekanan titik syaraf tertentu pada kaki, dipercaya bisa memberikan sejumlah manfaat kesehatan jika dilakukan secara teratur. Penelitian dalam Journal American Geriatrics Society mengungkap, kebiasaan berjalan kaki di batu-batuan dapat mengurangi tekanan darah dan meningkatkan keseimbangan. Termasuk, memberikan kaki dan betis latihan peregangan.

Norwegia

Keluarga Norwegia, suka sekali menghabiskan akhir pekan dengan dengan melakukan aktivitas di alam. Mulai dari sekedar berjalan-jalan di hutan terdekat, berkemah hingga trekking.

Bukan hanya membuat tubuh lebih fit dan langsing, tapi juga mempererat hubungan. Otot paha dan punggung dan kaki pun bisa lebih kencang jika dilakukan secara teratur.

Kuba
Musik dan tarian tak bisa dilepaskan dari warga Kuba. Sejak kecil, anak-anak sudah diajarkan tarian tradisional yang gerakannya sangat seru dan tentunya, efektif membakar kalori.

"Tarian di Kuba adalah bagian dari budaya untuk merespons ritme secara fisik," kata Yvonne Daniel, antropolog dan profesor tarian dari Smith College di Massachusetts, AS.

Tak heran, kalau para warga Kuba sangat andal menari dan tentunya melakukan ayunan pinggul yang merupakan kunci gerakan tarian Latin. Mereka bukan hanya menari di acara pesta pernikahan, tapi juga saat berkumpul dengan keluarga, termasuk di sekolah. Tari juga bagian dari kurikulum.

Bagi Anda yang suka musik menghentak, latihan menari pasti jadi cara asyik untuk membakar kalori sekaligus memancarkan aura seksi.